Wednesday, 28 May 2014

Aku bersendirian.Sungguh air mata ialah teman sejati sejak kebelakangan ini.Aku tidak tahu mahu bermula dari arah mana.

Termenung.
Redah atau rebah.

Satu suara halus memujuk.Moga datangnya dari iman yang makin menipis.

'Tawakal kepada Allah, Rumaisa.Berapa banyak halangan yang Rumaisa sudah mampu tempuhi.Sudah jauh kau berjalan. Rumaisa..Sabar dan tabahlah.Allah sedang berbicara denganmu.Percayalah pada hikmah'.Bisik suara halus itu.

Untuk terus rebah,aku tak mampu.Banyak tanggungjawab yang mesti aku pikul.Untuk meredah aku tak sekuat dulu.

'Pasti ada sinar buat dirimu.Indah itu tepat pada masanya.Jika tidak di dunia pasti di akhirat.Berjalanlah dengan berpegang teguh bersama janji Tuhan.Dia tidak akan mengecewakan.' sambung bicara makhluk halus.

Rumaisa tunduk lemah.

'Sejujurnya aku tak tahu ke mana hilangnya Rumaisa yang dulu.Rumaisa yang tetap bangun dan cekal untuk tetap meredah.Sepatutnya bila makin dewasa makin waras membuat keputusan.Bukan makin emotional.Speechless.'